Jumat, 10 Januari 2014

Perkembangan Mental Pada Usia Dini



PERKEMBANGAN MENTAL
GERAKAN-GERAKAN KASAR & HALUS, EMOSI, SOSIAL, PERILAKU, BICARA
Perkembangan anak balita:Sangat penting sebagai dasar untuk perkembangan selanjutnya yakni prasekolah, sekolah, akil balig dan remaja
  • Untuk perkembangan yang baik dibutuhkan:1. Kesehatan & gizi yang baik dari ibu hamil, bayi dan anak prasekolah2. Stimulasi/ rangsangan yang cukup dalam kualitas dan kuantitas
  • Keluarga dan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) mempunyai peran yang penting dalam pembinaan fisik, mental sosial anak balita
Dari lahir sampai 3 bulan:
  • Belajar mengangkat kepala (seperti yang terjadi pada Airin, sepertinya tujuannya untuk mempersiapkan diri sebelum tengkurap)
  • Belajar mengikuti objek dengan matanya
  • Melihat ke muka orang dengan tersenyum
  • Bereaksi terhadap suara/ bunyi
·         Mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak (mari Bu, sering diajak ngobrol bayinya, diajak bercerita, dengan begitu memperkenalkan ragam kata sejak dini)
  • Menahan barang yang dipegangnya
·         Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh (ga jelas Airin mo ngomong apa, tp dia tampak ingin mengucapkan sesuatu, dengan sesekali menarik nafas panjang tanda berusaha untuk mengeluarkan sebuah kata, menyampaikan uneg-unegnya, lucu sekali…)
Dari 3 bulan sampai 6 bulan:
  • Mengangkat kepala 90 derajat dan mengangkat dada dengan bertopang tangan (tandanya bayi mulai bisa tengkurap. Alhamdulillah Airin sudah bisa tengkurap umur 3 bulan lebih 3 hari meski hanya sekali pada saat itu, sekarang malah sudah sering tengkurap. Sebelum-sebelumnya badan dan kakinya dah miring-miring mo tengkurap, cuma kendalanya pada saat itu tinggal membalikan kepala. Tapi akhirnya bisa karena memang pada umur 3 bulan dia dah kuat menahan kepala dan mengangkat kepalanya)
  • Mulai belajar meraih benda-benda yang ada dalam jangkauannya atau di luar jangkauannya. (Ya dengan memegang jari-jemari saya, bahkan jangan salahkan kl jilbab bahkan rambut juga tertarik jika tidak berhati-hati, tapi belum kenceng koq pegangannya, masih dengan mudah dilepaskan)
  • Menahan benda-benda di mulutnya (dia senang sekali memasukkan kepalan tangannya ke mulutnya, duh Airin… kan bisa jadi sumber masuknya kuman)
  • Berusaha memperluas lapangan pandangan
  • Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain (ehmm…interaktif sekali)
  • Mulai berusaha mencari benda-benda yang hilang
Dari 6 bulan sampai 9 bulan:
  • Dapat duduk tanpa dibantu
  • Dapat tengkurap dan berbailik sendiri
  • Dapat merangkak meraih benda atau mendekati seseorang
  • Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain
  • Memegang benda kecil daengan ibu jari dan jari telunjuk
  • Bergembira dengan melempar benda-benda
  • Mengeluarkan kata-kata tanpa arti
  • Mengenal muka anggota-anggota keluarga dan takut kepada orang asing/ lain
  • Mulai berpartisipasi dalam permainan tepuk tangan dan sembunyi-sembunyian
Dari 9 bulan sampai 12 bulan:
  • Dapat berdiri sendiri tanpa dibantu
  • Dapat berjalan dengan dituntun
  • Menirukan suara (hayoo..sebelumnya dah distimulasi dengan suara yang baik-baik ya Bu… bisa dengan diperdengarkan murottal Al-Qur’an)
  • Mengulang bunyi yang didengarnya
  • Belajar menyatakan satu atau dua kata
  • Mengerti perintah sederhana atau larangan
  • Memperlihatkan minat yang besar dalam mengeksplorasi sekitarnya, ingin menyentuh apa saja dan memasukkan benda-benda ke mulutnya (memasuki fase oral sepertinya)
  • berpartisipasi dalam permainan
Dari 12 bulan sampai 18 bulan:
  • Berjalan dan mengeksplorasi rumah serta sekeliling rumah
  • Menyusun 2 atau 3 kotak
  • Dapat mengatakan 5-10 kata
  • Memperlihatkan rasa cemburu dan rasa bersaing
Dari 18 sampai 24 bulan:
  • Naik turun tangga
  • Menyusun 6 kotak
  • Menunjuk mata dan hidungnya
  • Menyusun dua kata
  • Belajar makan sendiri
  • Menggambar garis di kertas atau pasir
  • Mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil/ kencing
  • Menaruh minat kepada apa yang dikerjakan oleh orang-orang yang lebih besar
  • Memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain-main dengan mereka
Dari 2 sampai 3 tahun:
  • Belajar meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki
  • Membuat jembatan dengan 3 kotak
  • Mampu menyusun kalimat
  • Mempergunakan kata-kata saya, bertanya, mengerti kata-kata yang ditujukan kepadanya
  • Menggambar lingkaran
  • Bermain bersama dengan anak lain dan menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya
Dari 3 sampai 4 tahun:
  • Berjalan-jalan sendiri mengunjungi tetangga
  • Berjalan pada jari kaki
  • Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri
  • Menggambar garis silang
  • Mengenal 2 atau 3 warna
  • Menggambar orang hanya kepala dan badan
  • Bicara dengan baik
  • Menyebut namanya, jenis kelamin dan umurnya
  • Banyak bertanya
  • Bertanya bagaimana anak dilahirkan
  • Mengenal sisi atas, sisi bawah, sisi muka, dan sisi belakang
  • Mendengarkan cerita-cerita
  • Bermain dengan anak lain
  • Menunjukkan rasa sayang kepada saudara-saudranya
  • Dapat melakasanakan tugas-tugas sederhana
Dari 4 sampai 5 tahun:
  • Melompat dan menari
  • Menggambar orang terdiri dari kepala, lengan dan badan
  • Menggambar segi empat dan segi tiga
  • Pandai bicara
  • Dapat menghitung jari-jarinya
  • Dapat menyebut hari-hari dalam seminggu
  • Mendengar dan mengulang hal-hal penting dan cerita
  • Minat kepada kata baru dan artinya
  • Memprotes bila dilarang apa yang diingininya
  • Mengenal 4 warna
  • Memperkirakan bentuk dan besarnya benda, membedakan besar dan kecil
  • Menaruh minat kepada aktivitas orang dewasa
Pendidikan/ stimulasi yang perlu diberikan:
  • Akademik sederhana: pengenalan ruang, bentuk, warna, persiapan berhitung
  • Pendidikan alam sekitar, sosialisasi, mengenal lingkungan masyarakat
  • Bermain bebas untuk mengembangkan fantasi dan memperkaya pengalaman
  • Menyanyi, menggambar
  • Bahasa: bercakap-cakap, membaca gambar, bercerita, mengucapkan syair sederhana
  • Melatih daya ingat dengan antara lain bermain jualan, menyampaikan berita
  • Menggambar
  • Membuat permainan dari kertas
  • Mengenal tugas, larangan-larangan
  • Aktivitas sehari-hari: makan sendiri, minum sendiri, kontrol buang air besar (BAB), kontrol buang air kecil (BAK)

MENGATASI ANAK YANG SUKA MARAH



Sebagai orang tua, apa yang akan kita lakukan???, bila tiba-tiba anak anda ngambek gara-gara ingin mendapatkan suatu barang yang diinginkannya tidak terpenuhi. Mungkin perasaan anda tidak enak karena pasti orang akan mengira anda tidak becus mengurus anak. Daripada ribut, akhirnya Anda pun mengalah, meluluskan permintaan si kecil.

Menurut psikolog anak, Dr. Seto Mulyadi, orangtua tak perlu malu bila anaknya tiba-tiba bertingkah tak menyenangkan di depan umum. Toh, orang lain pun tahu kalau ini bukan masalah orangtua, tapi masalah anak-anak. “Justru yang perlu diupayakan adalah menenangkan si anak agar tak lebih lama mengganggu ketenangan umum. Dengan tegas, angkatlah ia dan ajak pulang. Pengalaman saya, tatap mata anak dan ajak ia pulang. Jangan tatap anak dengan kesal atau memelototinya, ia akan tahu itu dan akan makin keras mengamuk,” terang Doktor Psikologi lulusan Program Pasca Sarjana UI ini. Kata Seto, lebih baik tatap mata si anak dengan penuh kasih. Ia akan mengerti, ibu atau ayahnya tetap menyayanginya dan permintaannya bisa dibicarakan di rumah.

JADI SENJATA
Yang jelas, wajar jika anak kecil gampang meledak atau ngambek. Terlebih anak usia di atas 2 tahun. Saat itu ia sudah dapat mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau kecemasannya. “Untuk anak yang berusia di bawah 2 tahun, sangat gampang mengalihkannya. Misalnya saat ia ngambek, kita tunjukkan cicak di dinding. Atau tunjukkan ia gambar,” bilang Seto. Lain hal dengan anak usia 2 tahun di mana egonya mulai tumbuh. Ia ingin orang lain mengakui keberadaannya. Dengan cara diam, tak mau berpartisipasi atau berguling- guling, ia ingin orang lain mengerti akan kehadiran “aku”-nya yang baru. Ia pun sangat mementingkan diri sendiri. Apa yang diinginkannya harus dituruti segera dan saat itu juga.
Celakanya, jika perilaku tak baik ini tak ditanggulangi dengan baik, maka akan terus berkembang hingga dewasa. “Itu sebabnya ngambek harus diwaspadai sebagai cikal-bakal berbagai tingkah negatif setelah dewasa kelak. Bisa saja kalau keinginannya tak terpenuhi, lantas minggat dari rumah,” jelas Seto.
Apalagi, anak belajar dari lingkungan. Ia akan belajar bagaimana lingkungan meresponnya. Kalau ia ngambek lalu orangtuanya menuruti kehendaknya, maka ngambek akan dijadikan senjata untuk menarik perhatian “kekuasaan” atau orangtua. Dan tingkat ngambeknya juga akan terus meningkat. Beda jika ia ngambek, masalahnya dicoba dipecahkan. Alhasil, ia tak bisa menggunakan hal itu sebagai senjata. Dengan demikian, jika ia menginginkan sesuatu, ia tak akan ngambek, tapi mengacu pada sistem.

UNGKAPAN PROTES
Yang biasanya terjadi, anak ngambek untuk mengungkapkan protesnya atas kesewenangan orangtua. Terutama pada keluarga yang komunikasinya kurang efektif. Entah karena ayah-ibu yang terlalu sibuk sehingga perhatian pada si kecil sangat kurang, atau karena orangtua terlalu otoriter dan mau menang sendiri. Orangtua selalu memaksakan kehendaknya, sehingga tak pernah mendengar hati nurani anak. “Nah, anak akan merasa diperlakukan tak adil!” tukas Seto. Misalnya saja, pada saat anak minta mainan, orangtua langsung bilang, “Tidak! Mainan kamu sudah terlalu banyak!”
Padahal mungkin saja mainan yang banyak itu dibeli atas inisiatif orangtuanya yang saat membeli, suasana hatinya sedang senang, uang lagi banyak. Padahal, bisa saja si anak sebenarnya sedang tak butuh mainan. Nah, giliran ia memerlukan, justru orangtua berkata tidak. Anak pun merasa diperlakukan tak adil. Semuanya hanya dilihat dari sudut pandang orangtua, tak melalui suatu dialog yang demokratis. Akibatnya, anak frustrasi dan perasaan itu dilampiaskannya dengan cara ngambek.

METODE ANTI KALAH
Harus bagaimanakah kita bersikap? Yang jelas, kita mesti lebih membuka diri, sehingga anak dapat melampiaskan keinginan-keinginannya secara wajar. “Jadilah pendengar yang baik,” anjur Seto. Saat kumpul bersama keluarga, misalnya, ayah dan ibu harus mau mendengar dan menerima permintaan atau keluhan-keluhan anak. Jika anak minta dibelikan buku dan stiker, misalnya, tanyakan padanya, apakah itu sebuah kebutuhan atau keinginan. “Mana yang paling perlu? Buku atau stiker?” Anak pun akhirnya belajar, mana yang penting dan tidak. Kalaupun ia ingin protes, boleh-boleh saja sepanjang diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan bukan tingkah laku ngambek atau membanting pintu.
Tak ada salahnya anak ikut tahu kondisi keuangan ayah dan ibunya sehingga ia tahu persis, orangtua belum bisa memenuhi keinginannya. “Jadi, semuanya harus melalui dialog atau komunikasi,” tandas Seto. Cara lain untuk mengendalikan anak ngambek, adalah metode “anti-kalah” atau musyawarah dalam keluarga. “Tak ada yang kalah atau menang.” Lagi-lagi, dengan cara membuka dialog. Misalnya, “Yuk, kita bicarakan hal ini di rumah. Apa yang kamu mau, akan kita bicarakan dulu. Kalau memang diputuskan untuk dibeli, kita bisa kembali lagi besok.” Alhasil, titik temu yang memuaskan kedua belah pihak pun didapat. “Anak juga sekaligus belajar bahwa ia tak akan berhasil memenuhi keinginannya dengan cara ngambek,” kata Seto.


TENANG DAN KONSISTEN
Seto mengakui, memang bukan pekerjaan mudah mengajak bicara anak kecil yang tengah ngadat. Ia akan melawan, bersikukuh, alias mau menang sendiri. “Makanya, hadapi ia dengan sikap tenang. Kalau kita tampak panik, malu, atau marah-marah, anak malah jadi tambah bertingkah. Tenang, senyum, dan perlihatkan kita tetap menghargainya.
Nah, biasanya ngambeknya akan sedikit lumer,” papar anggota Creative Education Foundation ini. Orangtua bisa berujar, “Ibu tahu kamu kecewa, sedih. Sekarang kita pulang dulu, yuk! Nanti kita bicarakan di rumah. Ibu mau dengar apa maumu.” Lewat ucapan seperti itu, anak tahu, kita mengerti akan kemarahan atau kekecewaannya dan kita bisa menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. “Anak juga akan sadar, ia boleh marah tapi cara marahnya harus baik. Tidak dengan berguling-guling di depan umum. Dari situ ia akan merasa dihargai,” lanjut anggota World Council for Gifted & Talented Children ini. Di sisi lain, anak juga menjadi paham, ayah atau ibunya sudah berubah. Yang biasanya marah-marah, sekarang tak begitu lagi. “Tentunya orangtua harus konsisten dengan ucapannya. Tiba di rumah, ia harus mau mendengarkan keluhan-keluhan anak dan sama-sama mencari pemecahannya,” kata Seto.

BIKIN “PERJANJIAN”
Sikap pasif orangtua saat anaknya ngambek dengan cara membiarkan atau meninggalkan anak, tak terlalu disetujui pakar psikologi anak ini. “Ada kan, orangtua yang begitu. Anaknya dibiarkan dengan harapan kemarahan anak akan reda dengan sendirinya. Padahal, justru sikap seperti itu bisa membuat anak makin kecewa dan frustrasi. Bisa saja ngambeknya kemudian dialihkan di rumah karena masalah utamanya tak diselesaikan,” tutur anggota International Council of Psychologists ini. Padahal, tutur Seto lebih jauh, tak ada salahnya orangtua bersikap sedikit “merendah” dalam arti mau mendengarkan anak. Sebaliknya, orangtua pun harus berani mengungkapkan segala perasannya secara jujur. Kalau ingin marah, ya, kemukakan saja. Misalnya, “Ibu marah, lo, kalau kamu bersikap begini. Ibu kecewa.”

Jika anak tetap sajangambek, berarti masih ada kebutuhan yang tak terpenuhi. Bisa saja orangtua belum sadar tentang hak-hak anak. Hak untuk bermain, berpartisipasi, dan didengarkan oleh lingkungannya. “Tidak jadi robot terus!” tukas Seto. Jika ia tak mendapat hak-hak tadi, “Anak akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya,” tandas peraih penghargaan The Golden Baloon Award, New York ini.

Selain itu, Seto juga menyarankan agar para orangtua bisa mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang rawan konflik. Misalnya, kalau kemungkinan ia akan ngadat saat diajak ke mal, persiapkan sebelumnya. “Mama mau ajak kamu ke mal, tapi janji, hanya boleh minta satu barang saja. Kamu nanti mau minta apa? Stiker atau boneka? Pilih salah satu, tidak boleh lebih dari itu.” Nah, karena si kecil dilibatkan dalam perencanaannya, ia pun biasanya akan menepati janji karena merasa dirinya dihargai. Bisa juga ditambahkan dalam “perjanjian” itu, apa sanksinya jika si kecil ingkar janji. Misalnya, pada kepergian berikut, ia tak boleh ikut lagi.

HUKUMAN DAN PUJIAN
Dengan menegakkan demokrasi di rumah, anak akan terhindar dari rasa frustrasi. Sebab itulah, sejak anak bisa diajak bicara, sebaiknya biasakan diajak bicara. Anak pun akan merasa dihargai. “Kalau ia biasa dihargai, dipercaya, dan egonya diakui, maka ia akan lebih percaya diri dan tidak mudah ngambek,” kata Seto. Perlukah hukuman diberlakukan dalam hal ini? “Bisa saja, tapi bukan dalam bentuk pukulan atau cubitan. Melainkan dalam bentuk tak dipenuhinya keinginan itu. Biasanya ibu senyum, kok, kali ini tidak dan mukanya datar. Itu saja bagi anak yang peka sudah berarti hukuman,” jelas Seto. Namun, jangan lupa pula memberinya pujian jika ia berkelakuan baik dan dapat menghilangkan sifat ngambeknya.

RENCANA KEGIATAN HARIAN



RENCANA KEGIATAN HARIAN

Tema                          : Tanaman
Sub Tema                 : Bagian – bagian tumbuhan
Kelompok Usia         : 4 -< 5
Hari , Tanggal           : Jum’at, 20 Desember 2013
Alokasi Waktu          : 07.15 – 10.00
Sentra                                    : Kreativitas
A.     Kompetensi / Tujuan Pembelajaran
1.      Anak mampu berbaris sebelum masuk ke dalam kelas
2.      Anak mampu bernyanyi “Aku punya 2 mata”
3.      Anak mampu menirukan gerakan bebek berjalan
4.      Anak mampu berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan
5.      Anak mampu tertib saat diabsen
6.      Anak mampu anak mampu mendengarkan penjelasan guru
7.      Anak mampu menebali titik-titik yang berbentuk huruf A
8.      Anak mampu mengarsir gambar pada kertas putih
9.      Anak mampu melompat dengan ketinggian 20 cm
10.   Anak mampu membedakan kasar halus suatu benda
11.   Anak mampu menghitung banyaknya balok yang berbentuk segi empat dan segi tiga
12.   Anak mampu membereskan mainan
B.     Alat dan Bahan
1.      Crayon
2.      Pensil
3.      Kertas
4.      Tali karet
5.      Buah apel dan buah salak
C.    Metode
1.      Demonstrasi, bercakap-cakap, pemberian tugas
D.    Kegiatan Pengasuhan
1.      Menirukan gerakan bebek berjalan
2.      Memberi contoh saat menebali huruf A
3.      Membuat karya seni mengarsir gambar pada kertas putih
4.      Melompat dengan ketinggian 20cm
5.      Meraba benda
E.     Konsep Yang Disampaikan
·         Pengetahuan tentang tanaman bayam
·         Perluasan kosa kata ( daun, batang, bunga, akar, tanah )
·         Matematika
Warna
F.     Kegiatan Pengasuhan
A.     Persiapan
Pijakan Lingkungan
Menyiapkan bahan bahan dan alat

B.     Pelaksanaan
1.    Kegiatan pembukaan ± 15 menit
·        Mengajak anak-anak berbaris panjang seperti
·        Mengajak anak-anak untuk menunggu giliran melepas sepatu
·        Mengajak anak menirukan gerakan bebek berjalan
·        Menuju sentra
2.   Pijakan sebelum bermain ± 15 menit
·        Mengajak anak duduk bersama
·        Memberi salam kepada anak
·        Mengajak anak berdo’a bersama sebelum belajar
·      Anak diajak untuk mengapsen temannya yang belum datang
·        Pendidik membuat pertanyaan terbuka untuk menambah kosa kata yang diucapkan anak-anak,Yang berhubungan dengan Tanaman (bahasa): bayam, batang, daun, akar, bunga, tanah
·           Menyampaikan kegiatan main yang akan dilakukan anak hari ini.
Ø  Melompat dengan ketinggian 20cm
Ø  Mengarsir gambar pada kertas putih
Ø  Membedakan benda yang kasar dan halus
·           Membereskan mainan
3.   Pijakan saat main ±60 menit
-            Memberi waktu bermain ( 45 – 1 jam) untuk anak.
-            Membantu anak jika ada yang kesulitan dengan alat main.
-            Memperkuat dan memperluas bahasa anak.
-            Memperluas gagasan main anak dengan pertanyaan terbuka yang sudah disiapkan.
-.     Mengamati dan mendokumentasikan perkembangan dan kemajuan main anak.
4.        Pijakan setelah main ±15 menit
·           Memajang hasil karya
·           Membereskan alat main dan memasukkan ketempat semula.
·           Membentuk lingkaran dengan semua anak.
·           Menanyakan perasaan anak selama bermain.
·           Menanyakan kegiatan main yang dilakukan anak.
·           Menanyakan kembali konsep yang telah ditemukan selama main ( sesuai dengan rencana pembelajaran yang disusun)
·           Menegaskan perilaku yang dimunculkan anak (menolong/ membantu teman, sabar menunggu giliran, dan mendiskusikan untuk perilaku yang kurang tepat).
·           Menghubungkan dengan kegiatan yang akan datang.
5   Kegiatan penutup ± 15 menit
·           Doa sesudah kegitan
·           Pulang
G.   Evaluasi
Unjuk kerja, Percakapan, Hasil Karya, Penugasan

Mengetahui
Kepala Sekolah



ZUHRIA TRI KUSUMAWATI M.pd                       


Blitar, 20 Desember 2013
Guru Kelas A



M. ZULHAM EFENDI